Teks eksposisi laporan “Pandangan siswa terhadap pacaran di lingkungan sekolah
Guru pembimbing mata pelajaran : Bapak Harry Syahputra Gultom, M.pd
kelompok 2:
1. Aira syifa
2. Chivalries
3. Naila Advi Syakira Sitorus
4. Petrus Vedro Vega Nainggolan
5. Raziq Qasiq
6. Samuel Radot M
Alasan memilih topik :
1. Menurut Guerney dan Arthur (Dacey & Kenney, 1997) pacaran adalah aktifitas sosial yang membolehkan dua orang yang berbeda jenis kelaminnya untuk terikat dalam interaksi sosial,dengan pasangan yang tidak ada hubungan keluarga. Pacaran merupakan hal yang umum dilakukan oleh remaja khususnya siswa dibangku sekolah.
Alasan Naila: Topik ini diangkat karena dekat dengan kehidupan kita. Dengan mengangkat topik ini, kita jadi lebih tau pandangan siswa terhadap pacaran dilingkungan sekolah karena penelitian ini lebih dekat dengan realitas sosial mereka.
2. Penelitian “Hubungan Kepercayaan Diri dengan Penyesuaian Sosial pada Remaja di Kelas II SMP Muhammadiyah 1 Malang” (ejournal uin-antarasari) menemukan bahwa ada korelasi yang signifikan antara kepercayaan diri dan kemampuan penyesuaian sosial pada remaja.
Alasan raziq: Dalam beberapa kasus, pacaran disaat sekolah dapat menimbulkan dampak positif. pacaran bisa meningkatkan kepercayaan diri karena ia merasa bahwa dirinya sama sama diinginkan. Dapat meningkatkan semangat belajar dari dukungan emosional, serta menjadi ruang untuk bisa saling terbuka satu sama lain.Dengan penelitian ini kita dapat mengetahui pandangan siswa terhadap pacaran tidak hanya mengarah ke hal negatif
3. Berdasarkan artikel A.R.Wibisono, ada beberapa dampak negatif yang bisa muncul ketika seseorang berpacaran di usia dini yaitu (jadi dewasa sebelum waktunya,kesulitan mempertahankan kemampuan belajar, kesulitan mempertahankan prestasi akademik,cenderung berbohong pada orang tua, kehilangan teman dan diluar
Alasan Petrus :meskipun pacaran dapat memberikan hal positif, tidak dapat dipungkiri bahwa hasil dari hubungan tersebut bisa memberikan dampak negatif bagi siswa. Seperti turunnya minat dan bakat siswa terhadap prestasi akademiknya karena kurangnya konsentrasi. Kurangnya bersosialisasi kepada teman dan keluarga, serta beresiko stress dan depresi akibat kecemburuan dan terjerumus kedalam hubungan tidak sehat yang dapat menimbulkan kehamilan diluar nikah. Dengan penelitian ini kita dapat mengetahui pandangan siswa terhadap dampak dari pacaran itu sendiri.
4. Menurut Psikolog Anak dan Remaja dan Edukator, Hanlie Muliani, M.Psi, Psikolog, seperti dilansir dari situs Sahabat Orang Tua Anak, remaja yang kelewat bucin dalam berpacaran cenderung fokus pada hubungan percintaannya dan mengabaikan tugas sekolah, teman-teman dan aktivitas lainnya yang menjadi bagian penting dari perkembangan mereka.
Alasan Aira :Dengan penelitian ini, kita dapat mengetahui bagaimana pandangan siswa. Bagaimana mereka memandang budaya pacaran dilingkungan sekolah. Terkait batasan perilaku yang sesuai dengan norma dan etika yang berlaku. Hal ini penting untuk memahami sejauh mana siswa menyadari dan menghargai batasan-batasan tersebut ketika sedang berada dilingkungan sekolah.
5. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Sosiodrama untuk Mengurangi Perilaku Pacaran Tidak Sehat pada Siswa di SMA Negeri 1 Sumberejo” menunjukkan bahwa intervensi melalui bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama berhasil menurunkan perilaku pacaran tidak sehat (ejournal unesa.ac.id)
Alasan Chival :penelitian ini juga memiliki nilai praktis karena dapat menjadi sumber informasi bagi sekolah dan orang tua dalam memahami kebutuhan emosional serta perilaku sosial siswa. Dengan mengetahui pandangan siswa terhadap pacaran, pihak sekolah dan orang tua dapat mengambil langkah preventif maupun edukatif yang lebih tepat. Hasil kajian ini diharapkan dapat membantu dalam menyusun pendekatan pembinaan karakter yang lebih sesuai dengan kondisi remaja masa kini.
6. (journal stkip subang) “Pacaran Dampak pacaran generasi Z terhadap kesehatan mental”Menunjukkan bahwa pacaran pada Generasi Z memiliki sisi positif seperti peningkatan kepercayaan diri, dukungan emosional, perkembangan empati; tetapi juga sisi negatif seperti kecemasan berlebih, tekanan emosional, overthinking, konflik, bahkan potensi depresi.
Alasan Samuel: Sehingga, kami memilih topik pandangan siswa terhadap pacaran di sekolah karena topik ini dekat dengan kehidupan remaja dan sering menimbulkan pro dan kontra. Pacaran bisa berdampak positif maupun negatif, sehingga penting untuk mengetahui pandangan siswa dan mendorong diskusi sehat tentang hubungan sosial di sekolah.
- Fanny Safitri (x-11)
- Alfiyah Shaqil Khairi T (x-11)
- Rofi Alwan A (x-11)
- Aira Felisa (x-11)
- Raja mohd Daniel (x-11)
- Putri Azki A (xi-1)
- Datuk Rizky A (x-11)
- Evelyn Shecilia M (x-11)
- Raymond (x-4)
- Dimas Ramadansyah (x-12)
1. Apa pandangan kamu terhadap fenomena pacaran di lingkungan sekolah yang dekat dengan kehidupan mereka?
2. Siapa yang biasanya merasakan dampak positif dari hubungan pacaran, seperti meningkatnya kepercayaan diri atau semangat belajar?
3. Kapan biasanya dampak negatif dari pacaran mulai muncul dan memengaruhi kegiatan belajar siswa?
4.Di mana batasan perilaku pacaran menurut kamu seharusnya diterapkan agar tetap sesuai dengan norma dan etika sekolah?
5. Mengapa penting bagi sekolah dan orang tua memahami pandangan siswa terhadap pacaran di usia remaja?
Hasil penelitian :
1. Pandangan Umum Siswa terhadap Pacaran di Sekolah
Mayoritas siswa menyatakan bahwa pacaran di sekolah merupakan hal yang wajar dan lumrah terjadi di usia remaja. Mereka memahami bahwa masa remaja adalah fase awal dalam mengenal perasaan dan hubungan emosional. Namun, ada juga pandangan yang menyebutkan bahwa pacaran di lingkungan sekolah bisa berdampak buruk bagi hubungan sosial antara guru dan siswa.
- “Kalau menurut saya sendiri, pacaran itu hal yang wajar karena kita mulai penasaran dengan gimana rasanya punya hubungan dengan lawan jenis.” (putri Azki A )
2. Dampak Positif dari Pacaran di Sekolah
Beberapa siswa menyebutkan bahwa pacaran dapat memberikan dampak positif seperti:
- Meningkatkan kepercayaan diri.
- Memberikan semangat dan motivasi belajar.
- Saling mendukung dalam meraih prestasi.
- Memberi rasa bahagia dan dukungan emosional.
Dampak positif dirasakan jika hubungan pacaran bersifat saling mendukung dan sehat.
-“Siswa yang bisa mengatur waktu dan hubungan dengan baik jadi lebih semangat dan percaya diri.” – (Fani )
-“Pacaran itu bisa saling support, bahkan belajar bareng.”
– (Evelyn)
-“Biasanya yang positif itu yang pacarannya sehat dan saling dukung.” – (Alfiyah )
3.Dampak Negatif yang Muncul
Hampir semua responden mengakui bahwa pacaran juga bisa membawa dampak negatif, terutama ketika hubungan tidak berjalan sehat. Beberapa dampak yang disebutkan antara lain gangguan konsentrasi belajar, overthinking, cemburu berlebihan, pertengkaran, hingga ketergantungan emosional.
- “Pacaran yang tidak sehat dapat menurunkan konsentrasi belajar dan menyebabkan tugas-tugas terabaikan” (Aira Felisa).
- “Seringnya pasangan berinteraksi di pojok kelas sebelum guru datang bisa berdampak negatif” (Raja Mohd Daniel).
- “Jika hubungan sudah melampaui batas dan siswa hanya memikirkan pasangan, waktu belajar akan berkurang” (Datuk).
4. Batasan Perilaku yang Sesuai Norma Sekolah
Para siswa sepakat bahwa pacaran seharusnya tetap dilakukan dengan Menjaga sikap sopan, tidak berlebihan atau mesra di depan umum, tidak berpojok-pojokan, tidak saling bersentuhan tangan, berbicara seperlunya, dan tidak mengabaikan tanggung jawab sebagai pelajar.Ditekankan agar perilaku pacaran di sekolah harus tetap sesuai dengan norma dan etika yang berlaku.Batasan perilaku penting untuk menjaga etika dan tata tertib sekolah.Tidak berlebihan dalam menunjukkan hubungan di depan umum.Menjaga sikap sopan, saling menghormati, dan tidak mengganggu suasana belajar.Penting untuk tetap menjaga privasi hubungan dan menghormati hak orang lain di lingkungan sekolah.
Ada pendapat (Datuk) bahwa pacaran sebaiknya dilakukan di luar sekolah dan tidak dibawa ke lingkungan sekolah.
5. Pentingnya Peran Sekolah dan Orang Tua
Semua siswa menyadari bahwa bimbingan dari orang tua dan sekolah sangat penting. Namun, mereka berharap pendekatan yang digunakan bukan sekadar melarang, melainkan memberikan pengertian, bimbingan, dan komunikasi terbuka. Penting bagi sekolah dan orang tua untuk memahami pandangan siswa agar dapat memberi bimbingan yang tepat, memberikan arahan, serta membantu siswa memahami arti pacaran di usia remaja. Pemahaman ini juga penting agar sekolah dan orang tua dapat membuat kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan mengantisipasi masalah yang lebih besar (contoh: kehamilan di luar nikah, sikap negatif, dll).
Sekolah dan orang tua harus memahami sudut pandang siswa terkait pacaran agar:
- Mampu memberikan bimbingan dan nasihat, bukan hanya larangan.
- Dapat menciptakan lingkungan yang aman dan suportif sehingga siswa dapat menjalani hubungan sehat dan bertanggung jawab.
- Bimbingan dari orang dewasa membantu siswa memahami batasan dan risiko hubungan remaja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memandang pacaran di lingkungan sekolah sebagai hal yang wajar di usia remaja, selama dijalani dengan batasan yang sehat dan tidak mengganggu proses belajar. Pacaran dinilai bisa memberikan dampak positif seperti meningkatkan kepercayaan diri, semangat belajar, dan dukungan emosional, terutama jika hubungan tersebut saling mendukung.
Namun, siswa juga menyadari adanya dampak negatif, seperti gangguan konsentrasi, konflik emosional, hingga perilaku yang melanggar norma sekolah, jika pacaran tidak dikelola dengan baik. Karena itu, penting untuk menjaga sikap, menjaga privasi, dan tetap mematuhi etika sekolah.
Para siswa berharap agar sekolah dan orang tua tidak hanya melarang, tetapi juga memberikan bimbingan dan pemahaman melalui pendekatan yang mendukung. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak sekolah dan keluarga untuk membina karakter remaja dan menciptakan lingkungan sosial yang sehat di sekolah.
Saran
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kebutuhan akan peran aktif semua pihak. Oleh karena itu, beberapa
saran disampaikan untuk menjadi perhatian bersama.
saran disampaikan untuk menjadi perhatian bersama.
- Siswa seharusnya tahu membatasi perilaku pacaran agar tidak menganggu kegiatan belajar dan tetap mematuhi norma sekolah.
- Sekolah perlu menyediakan ruang diskusi terbuka atau sesi konseling tentang hubungan sosial remaja.
- Orang tua sebaiknya menjadi pendengar yang baik dan bersikap terbuka dalam berdialog tentang hubungan anaknya.
- Pendidikan karakter dan etika berpacaran dapat dimasukkan ke dalam materi Bimbingan Konseling atau kegiatan ekstrakurikuler.
poster

Komentar
Posting Komentar